CERITA RAKYAT RIAU, LANCANG KUNING MINTA TUMBAL WANITA

cerita rakyat riau, lancang kuning, pekanbaru riau, wisata pekanbaru, pekanbaru riau, melayu riau
Miniatur Lancang Kuning. Sumber: http://bit.ly/KdjgGV

Selain terkenal dengan Batik Riau yang bermotif khas Melayu sangat indah Riau juga terkenal dengan Lancang Kuning. Lancang kuning sudah menjadi cerita rakyat Riau yang turun temurun di daerah Pekanbaru Riau. Lancang Kuning adalah adalah sebuah kapal. Konon kapal yang mempunyai warna kuning ini merupakan kendaraan untuk para pembesar seperti raja, datuk  dan lain-lain. Lancang Kuning terdiri dari kata Lancang yang mempunyai arti melaju dan Kuning sebagai lambang daulat dan harkat martabat. Lancang Kuning bercerita tentang konflik dan dendam pribadi para penguasa yang akhirnya ikut menghancurkan pemerintahan dan masyarakatnya.

Cerita rakyat Riau ini dimulai pada jaman dahulu, jaman hidupnya seorang raja yang bernama Datuk Laksamana Perkasa Alam. Sebagai seorang raja dia mempunyai dua orang panglima kepercayaan yang bernama panglima Umar dan panglima Hasan. Selain itu dia juga mempunyai seorang dukun yang bernama Bomo yang mempunyai tugas menjaga keselamatan orang-orang istana.

Panglima Umar dan panglima Hasan sama-sama tertarik pada wanita cantik yang bernama Zubaidah. Persaingan ini dimenangkan oleh panglima Umar. Panglima Umar berhasil lebih dahulu mempersunting Zubaidah untuk dijadikan istrinya. Menyaksikan hal ini panglima Hasan kecewa dan bermaksud jahat untuk merebut Zubaidah dari tangan panglima Umar. Dalam upaya ini panglima Hasan mengajak Bomo sang dukun istana agar ikut membantu rencananya menyingkirkan Umar.

Pembuatan Lancang Kuning

Panglima Hasan meminta sang dukun untuk menyampaikan kepada sang raja bahwa dirinya bermimpi agar beliau membangun sebuah kapal Lancang Kuning untuk mengamankan perairan dari bajak laut. Raja Datuk Laksamana menyetujui hal tersebut dan mulailah dibuat sebuah kapal Lancang Kuning selama berhari-hari. Pada saat kapal Lancang Kuning hampir selesai, panglima Hasan dan dukun Bomo melakukan rencana berikutnya lagi dengan membuat kebohongan baru. Mereka mengatakan kepada raja Datuk Laksamana bahwa Bathin Sanggono telah melarang para nelayan dari Bukit Batu untuk mencari ikan di Tanjung Jati.

Mengikuti perintah Datuk Laksamana, panglima Umar pergi ke Tanjung Jati untuk menanyakan perihal tersebut kepada Bathin Sanggono. Setelah mendapat penjelasan dari Bathin Sanggono akhirnya panglima Umar sadar bahwa dirinya menjadi korban kebohongan. Sementara itu pada saat panglima Umar pergi, panglima Hasan merayu Zubaidah yang tengah hamil tua agar mau menjadi istrinya. Namun maksud panglima Hasan ditolak oleh Zubaidah.

Panglima Hasan tidak berhenti disitu saja. Kapal Lancang Kuning yang rencananya akan diluncurkan ke laut pada saat bulan purnama dibuat seolah-olah tidak bisa digerakkan walaupun didorong oleh banyak orang. Dukun Bomo menyarankan agar ada yang dikorbankan. Seorang wanita yang hamil tua diminta oleh Bomo untuk dikorbankan agar kapal Lancang Kuning bisa didorong ke laut.

Datuk Laksamana akhirnya menunda peluncuran kapal Lancang Kuning. Namun panglima Hasan justru menemui Zubaidah. Dia mengancam Zubaidah jika tidak mau menjadi istrinya maka dia akan dijadikan sebagai korban bagi Lancang Kuning. Tubuhnya akan dijadikan gilingan agar kapal Lancang Kuning bisa meluncur ke laut.

Zubaidah tetap menolak permintaan panglima Hasan karena itulah panglima Hasan menarik Zubaidah dan menjadikannya gilingan kapal Lancang Kuning. Kapal Lancang Kuning pun meluncur ke laut dan Zubaidah tewas bersama jabang bayinya.

Hancurnya Lancang Kuning

Betapa terpukulnya hati panglima Umar ketika mengetahui nasib istri dan jabang bayinya. Dengan jahatnya panglima Hasan justru memfitnah raja Datuk Laksamana sebagai dalang dari semua ini. Mendengar ini panglima Umar kemudian mencari dan membunuh Datuk Laksamana. Namun menyesalah panglima Umar setelah mendapat penjelasan dari dukun Domo bahwa yang menjadikan Zubaidah sebagai gilingan Lancang Kuning sebenarnya adalah panglima Hasan. Mengetahui itu panglima Umar langsung mencari panglima Hasan dan kemudian membunuhnya juga.

Panglima Umar yang dalam keadaan terpukul kemudian berlayar ke Tanjung Jati. Malang, ditengah laut kapal Lancang Kuning diterjang badai dan tenggelam. Panglima Umar tewas dan kerajaan Bukit Batu pun berakhir sudah.

Dari cerita rakyat riau ini kita mendapatkan pelajaran bahwa sebuah niat jahat bisa apalagi jika dilakukan para petinggi bangsa maka akan bisa menjadikan malapetaka yang menghancurkan bangsa dan masyarakatnya.

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

*